Kamis, 24 November 2011
Selasa, 15 November 2011
My kimBum
Bukan Cerpen Cinta Biasa
Pake
nama apa dek?”
“Lupa! Mbak.”
“Hah Lupa? Oh, paket 2 jam ya?”
“Lupa! Mbak.”
“Hah Lupa? Oh, paket 2 jam ya?”
Langsung saja kuserahkan
selembar uang 5 ribu bergambar Tuanku Imam Bonjol kepada operator warnet
tersebut. Dia langsung menyodorkan kembalian berupa 5 buah permen Relaxa.
“Terima kasih mbak,”
“Terima kasih mbak,”
padahal dalam hatiku aku merasa
kesal karena diberi kembalian berupa permen.
Segera aku pergi meninggalkan warnet di jalan Setyia Budi itu, mengendarai sepeda motor mio warna biru milik ibuku. Di dalam flashdiskku sudah terdapat bertumpuk-tumpuk halaman web berisi cerpen dan beberapa lagu yang akan menjadi inspirasiku dalam mebuat cerpen.
“Huft, harus lembur neh” kataku dalam hati.
“Kenapa seh harus ada tugas buat cerpen, padahal dari jaman baheula aku gak pernah buat cerpen” sesalku dalam hati.
***
Segera aku pergi meninggalkan warnet di jalan Setyia Budi itu, mengendarai sepeda motor mio warna biru milik ibuku. Di dalam flashdiskku sudah terdapat bertumpuk-tumpuk halaman web berisi cerpen dan beberapa lagu yang akan menjadi inspirasiku dalam mebuat cerpen.
“Huft, harus lembur neh” kataku dalam hati.
“Kenapa seh harus ada tugas buat cerpen, padahal dari jaman baheula aku gak pernah buat cerpen” sesalku dalam hati.
***
Setibanya di rumah langsung
kunyalakan komputer butut kesayanganku. Kupindahkan semua cerpen yang ada di
flashdisk, sambil mendengar lagu kubaca semua cerpen tersebut satu persatu.
“Le, mandi sholat terus makan!” teriakan ibuku menyadarkanku.
“Oh tidak!” aku tersadar di dalam hati. Gara-gara terlalu asyik membaca aku sampai terlupa untuk menulis cerpenku sendiri.
Setelah makan langsung saja kuketik tugas cerpen milikku, entah bagaimana ceritanya aku sendiri tak tahu. Tanganku sepertinya mengetik dengan kehendaknya sendiri.
Setelah cukup lama mengetik dan kurasa telah cukup tiba-tiba hapeku yang tidak kalah bututnya dengan komputerku mendendangkan Nokia Tune, tanda sebuah sms telah masuk. Kuambil hapeku dan kulihat siapa pengirimnya.
Wow, betapa berbunga-bunga hati ini, ternyata sms itu dari Luna. Nama lengkapnya Riska Puti Utami . Selain namanya yang cantik, tentu saja dia cantik pula. Dia adalah wanita pujaanku, sulit untuk mengungkapkan seperti apa dia itu. Beberapa orang bilang sifatnya keras kepala, matre, lola, berselera tinggi, pencemburu dan sebagainya. Namun bagiku hanya ada satu kata yang pantas untuk menggambarkannya, yaitu ‘Sempurna’.
Meskipun aku tahu untuk mendapatkannya itu merupakan suatu hal yang mustahil, sms yang dikirimkannya juga hanya sms yang bertanya tentang tugas matematika. Bukan mau sombong, tapi nilai matematikaku adalah yang terbaik dikelas. Sudah sering aku mengikuti olympiade matematika, meskipun belum pernah meraih prestasi yang sangat membanggakan.
***
Akhirnya lembur seharian ditambah semalaman tidak sia-sia juga, aku bangga dengan hasil karyaku sendiri. Mungkin bukan karya terbaik dikelas tapi ini adalah karya terbaik yang pernah kutulis, ha ha ha tentu saja karena ini juga merupakan cerpen pertamaku.
Saat istirahat di kelas aku tidak keluar ke kantin, aku sibuk membaca cerpen karyaku. Malahan kadang-kadang jadi senyum-senyum sendiri, mungkin kalau dilihat orang lain dikiranya aku ini sudah gila.
“Eh Chul, kenapa muh?” Luna tiba-tiba datang mengagetkanku.
“Eh ya eh gak, gak ngapa-ngapain kok,” jawabku gelagapan.
“Hi hi hi, biasa aja Chul. Makasih bantuannya semalem, kapan-kapan aku minta tolong lagi ya, Okay!”
“Gak usah dipikirin, udah biasa lagi” jawabku sok kalem.
“Lagi baca apa muh?”
“Oh ini, tugas cerpen Bahasa Indonesia. Gak boleh liat ya!”
“Sapa juga yang mau liat!” ledek Luna sambil mencibir.
“Besok lusa kamu kerumah ya! Bantu aku buat bikin jaring-jaring bangun ruang dari karton.
"Abeh, kan gampang bisa bikin sendiri."
"Pokoknya aku tunggu," dia langsung pergi meninggalkan bangku dan kelasku.
***
"Woi, dasar alay" teriakku di depan rumahnya ketika kulihat dia sedang duduk menyaksikan anak-anak bermain layang-layang.
"Sapa yang alay, kamu tuh yang alay plus lebay gak ketulungan?" sanggahnya.
"Dibilangi alay ngeyel, alay anak layangan, kerjaannya nongkrong di pinggir jalan sambil godain cowok"
"Eh aku gak gitu, gak jadi minta tolong aku dah."
"Cie cie gitu aja marah. Sana dah smsan dengan pacarmu, biar aku kerjain sendirian," kataku sambil mengambil karton, penggaris dan pensil yang sudah disediakannya.
"Chul."
"Ya" jawabku singkat.
"Aku sudah putus dengan pacarku."
"Emang kenapa?" tanyaku.
"Dia ... dia ternyata gay" Luna berkata sambil menundukkan kepalanya
"Hah... Yang bener?" aku merasa kaget bercampur bahagia. Karena mungkin dengan jalan ini aku bisa mendapatkannya tapi aku merasa sedikit heran karena dalam cerpen buatanku si tokoh utama putus dari pacarnya karena pacarnya lesbi, sedikit mirip memang.
"Kamu harus sabar Lun, jalan hidup memang penuh dengan persimpangan, batu kerikil dan polisi tidur, jika jalan yang kamu lalui itu lebih menyerupai tol yang mulus tanpa persimpangan, mungkin itu bukanlah kehidupan yang sebenarnya."
“Ya"jawabnya rilih
"Pandanglah hidup dari sisi manisnya Lun, jangan seperti aku memandang hidup dari sisi pahitnya saja. Ada hadits yang artinya harta karun dari setiap muslim adalah hikmah, oleh karena itu carilah hikmah dari setiap kejadian."
Sambil mengangkat kepalanya dia tertawa
"Hi hi hi lebaynya keluar sudah"
Tiba-tiba prang, terdengar suara seperti piring pecah.
"Apa itu Lun?"
"Gak papa kok, paling kucing ngejar tikus terus mecahin piring"
Tapi dari raut wajahnya kulihat kekhawatiran yang semakin bertambah.
Apakah jangan-jangan cerita lanjutan dari cerpenku menjadi kenyataan, orang tuanya bertengkar lalu bercerai. Ah itu tidak mungkin pasti cuma kucing. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya lagi.
Segera aku ukur panjang dan lebar kertas tersebut, kugaris dan kubuat polanya. Sementara dia sedang sibuk memotong kertas. Setelah menghabiskan waktu bermenit-menit dengannya, akhirnya tugas ini berhasil di selesaikan.
"Akhirnya selesai juga." sambil menyodorkan tangannya kepadaku.
"Makasih ya" dia menyalamiku
"Tuh ‘kan, kamu yang lebay" balasku. "Eh lun aku mau cerita sesuatu tentang . . ."
Belum selesai aku berkata-kata tiba-tiba muncullah ibunya sambil membawa sebuah tas besar yang entah berisi apa dan berlari menuju pangkalan ojek tidak jauh dari rumah Luna.
"Mama mau kemana?" teriak Luna.
Namun sang mama masih terus berlari tanpa menghiraukan panggilan anak semata wayangnya itu.
Wajah cantik luna kini bukan lagi nampak khawatir namun sudah sangat sedih, matanya nampak berkaca-kaca.
"Tadi mau cerita apa "
"Gak jadi dah Lun!" aku tidak tahu harus bagaimana, karena cerita cerpenku kini semakin menjadi nyata.
"Chul, makasih ya atas bantuan kamu, sekarang aku masih mau sendiri. Gak papa ‘kan," Luna mengusirku secara halus, aku tahu ia sangat terpukul dengan kejadian-kejadian ini.
"Kalau kamu butuh bantuan atau temen curhat lagi aku bersedia membantu" Luna mengambil bangun ruang yang telah selesai dan membawanya ke kamarnya.
***
Entah mengapa sore ini terasa bagai malam, gelap dan dingin. Jalan yang kulalui tampak sunyi dan sepi, tak seorangpun kujumpai.
Ternyata tanpa kusadari aku melalui jalan yang salah, pikiranku sudah bingung.
"Pantas saja sepi" pikirku dalam hati.
Gerimis juga mulai jatuh, padahal seharusnya sekarang ini sudah bukan musim hujan, mungkin akibat Global Warming dan gejala El Nino atau La Nina.
Aaaaaaaaaa.
Aku tidak bisa tidur malam ini, di kepalaku hanya teringat dia, di mataku hanya nampak wajahnya, suaranya masih bisa kudengar, bau tubuhnya juga tercium, tangan halusnya juga masih bisa kuraba.
Aku menjadi stress sekaligus bingung "Apakah ini yang namanya cinta atau hanya rasa bersalah yang menghantui diriku akibat cerpen itu. Ya tuhan, tolong hambamu ini."
***
Hari ini ekstrakurikuler wajib yang kuikuti yaitu KIR mengadakan kegiatan SO (Social Observation). Kegiatan ini berisi penelitian tentang benda benda prasejarah tepatnya zaman megalitikum, kurang lebih zaman 5.000 tahun yang lalu.
Jujur aku malas untuk datang, namun aku benar-benar takut 3 kejadian di cerpenku selanjutnya benar-benar terjadi.
Aku bergegas berangkat menuju sekolah, takutnya aku terlambat. Dan ternyata memang benar, namun tak apa sebagian besar siswa lain sama terlambatnya.
Langsung saja kucari Luna yang satu kelompok denganku, kulihat wajahnya nampak bahagia, mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi cerpenku. Aku meyakinkan diriku sendiri, "2 kejadian sebelumnya hanya kebetulan, tidak mungkin selanjutnya terjadi lagi."
Semuanya berjalan lancar, kelompokku melaju pertama dan tidak ada masalah dalam perjalanan. Dalam satu kelompak ada 8 orang, namun hanya ada 6 orang yang datang, dan aku satu-satunya lelaki disini.
Dalam kelompokku selain aku dan Luna tentunya ada pula Ratna yang pandai kimia, dia adalah murid kesayangan Pak Joko guru kimia kami. Tya yang terkenal suka gonta-ganti pacar, mungkin sama banyaknya dengan aku mengetik kata ‘dia’ dalam cerpen buatanku sebelumnya. Tak lupa Paramita si kandidat kuat ketum ekstra ini dan Icha teman Luna dalam ekstra Baster (Barisan Teater) yang selalu saja berbicara tanpa bias dian.
Akhirnya kami tiba ditempat terakhir sambil menunggu kelompok lainnya anak-anak sibuk berfoto ria, namun kulihat Luna justru menuruni tangga batu menuju kesebuah pinggiran tebing yang cukup jauh dari tempat kami.
Aku takut sekali, aku berharap kejadian dicerpenku tidak benar-benar terjadi. Ayahnya tertabrak mobil dan kakinya lumpuh, si tokoh utama menjadi gila dan bunuh diri.
"Luna!" aku berteriak sekuat tenaga sambil menghampirinya. Tampak anak-anak lain hanya senyum-senyum sendiri.
"Kamu gak papa lun, gak ada masalah lagi ‘kan," tanyaku memastikan.
"Kamu tahu ‘kan, kemarin sore orang tuaku bertengkar dan mama pergi entah kemana. Kemarin malam, papaku pergi mencari mama namun naas motor papaku tertabrak truk di jalan Jember. Sekarang entah keadaannya bagaimana," Luna berkata sambil menetaskan air matanya.
"Maafin aku Lun, ini semua salahku," jawabku dengan suara serak.
"Emang kamu salah apa?" tanyanya tak mengerti.
"Sebenarnya aku mau ngomong dari kemarin, tapi aku tidak punya keberanian. Kejadian-kejadian yang kamu alami selama ini itu sama persis dengan cerpenku."
"Maksud kamu?" dia tambah tidak mengerti.
"Kejadian putusnya kamu dengan pacarmu, orang tuamu yang bertengkar, papimu yang kecelakaan itu tertulis semua di cerpenku"
"Jadi semua kejadian ini gara-gara cerpenmu. Semua kejadian yang kamu tulis di cerpenmu menjadi kenyataan yang menimpa diriku, trus apalagi selanjutnya, kamu buat aku mati,” Luna sudah tidak seperti yang kukenal, dia sudah benar-benar seperti orang gila. Dia meronta-meronta tidak karuan.
"Waduh gimana nih, mungkin ini kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan dalam hidup" aku hanya bisa menyesali dalam hati.
Yang bisa kulakukan hanya memegang kedua tangannya agar tidak meronta. Setelah beberapa puluh kali jantungku berdegup kencang, akhirnya dia bias diam, kulanjutkan dengan berkata kepadanya.
"Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hatiku terdalam
Sungguh aku cinta padamu.
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku
Seumur hidupku
Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini kulakukan karena kamu memang untukku."
"Maafin aku Lun!"
"Hi hi hi itu kan lirik lagunya Afgan yang Bukan Cinta Biasa, gak kreatif neh" jawabnya yang langsung mengagetkanku.
Aku hanya diam tak bersuara
"Kamu tau nggak ini tanggal berapa"
"3 mei 2009, emang ada apa?" tanyaku polos.
"Aku tau kamu suka sama aku, aku juga sudah suka sama kamu dari dulu, aku udah janji sama diriku sendiri kalo kamu enggak nembak aku sampai hari ulang tahunku aku bakal ngelupain kamu. Namun akhirnya aku gak perlu ngelupain kamu"
“Terus semua kejadian selama ini?” tanyaku kebingungan.
“Itu cuma rekayasa, aku udah jomblo dari dulu, gak ada ceritanya gay-gayan. Mamaku juga aku suruh pura-pura minggat, trus papaku juga sehat walafiat kok” jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu tau darimana kalo cerpenku ceritanya seperti itu" tanyaku lagi.
"Bu Lastri itu ‘kan bu dheku, jadi aku sering main-main kerumahnya, kebetulan aku baca cerpen yang kamu kumpulin.”
“Jadi sekarang kita sudah resmi pacaran sekarang?”
“Ha ha ha ha” mungkin sebentar lagu aku yang menjadi gila.
***
Minggu 3 Mei 2009
Dear diary
Hari ini aku menemukan cintaku yang selama ini kucari
Bukan sekedar cinta monyet, kera, simpanse, lutung, gorilla, kingkong dan sebagainya
Cinta yang sesungguhya bahkan mungkin bukanlah sekedar cinta biasa
Meskipun aku tak tahu apa itu cinta itu sebenarnya
Namun aku berharap cintaku akan abadi selamanya
Ku berharap cinta yang tumbuh ini tak akan bisa mati
Akan terus bersemi dalam hati
Hingga akhir hayat
Nanti
“Le, mandi sholat terus makan!” teriakan ibuku menyadarkanku.
“Oh tidak!” aku tersadar di dalam hati. Gara-gara terlalu asyik membaca aku sampai terlupa untuk menulis cerpenku sendiri.
Setelah makan langsung saja kuketik tugas cerpen milikku, entah bagaimana ceritanya aku sendiri tak tahu. Tanganku sepertinya mengetik dengan kehendaknya sendiri.
Setelah cukup lama mengetik dan kurasa telah cukup tiba-tiba hapeku yang tidak kalah bututnya dengan komputerku mendendangkan Nokia Tune, tanda sebuah sms telah masuk. Kuambil hapeku dan kulihat siapa pengirimnya.
Wow, betapa berbunga-bunga hati ini, ternyata sms itu dari Luna. Nama lengkapnya Riska Puti Utami . Selain namanya yang cantik, tentu saja dia cantik pula. Dia adalah wanita pujaanku, sulit untuk mengungkapkan seperti apa dia itu. Beberapa orang bilang sifatnya keras kepala, matre, lola, berselera tinggi, pencemburu dan sebagainya. Namun bagiku hanya ada satu kata yang pantas untuk menggambarkannya, yaitu ‘Sempurna’.
Meskipun aku tahu untuk mendapatkannya itu merupakan suatu hal yang mustahil, sms yang dikirimkannya juga hanya sms yang bertanya tentang tugas matematika. Bukan mau sombong, tapi nilai matematikaku adalah yang terbaik dikelas. Sudah sering aku mengikuti olympiade matematika, meskipun belum pernah meraih prestasi yang sangat membanggakan.
***
Akhirnya lembur seharian ditambah semalaman tidak sia-sia juga, aku bangga dengan hasil karyaku sendiri. Mungkin bukan karya terbaik dikelas tapi ini adalah karya terbaik yang pernah kutulis, ha ha ha tentu saja karena ini juga merupakan cerpen pertamaku.
Saat istirahat di kelas aku tidak keluar ke kantin, aku sibuk membaca cerpen karyaku. Malahan kadang-kadang jadi senyum-senyum sendiri, mungkin kalau dilihat orang lain dikiranya aku ini sudah gila.
“Eh Chul, kenapa muh?” Luna tiba-tiba datang mengagetkanku.
“Eh ya eh gak, gak ngapa-ngapain kok,” jawabku gelagapan.
“Hi hi hi, biasa aja Chul. Makasih bantuannya semalem, kapan-kapan aku minta tolong lagi ya, Okay!”
“Gak usah dipikirin, udah biasa lagi” jawabku sok kalem.
“Lagi baca apa muh?”
“Oh ini, tugas cerpen Bahasa Indonesia. Gak boleh liat ya!”
“Sapa juga yang mau liat!” ledek Luna sambil mencibir.
“Besok lusa kamu kerumah ya! Bantu aku buat bikin jaring-jaring bangun ruang dari karton.
"Abeh, kan gampang bisa bikin sendiri."
"Pokoknya aku tunggu," dia langsung pergi meninggalkan bangku dan kelasku.
***
"Woi, dasar alay" teriakku di depan rumahnya ketika kulihat dia sedang duduk menyaksikan anak-anak bermain layang-layang.
"Sapa yang alay, kamu tuh yang alay plus lebay gak ketulungan?" sanggahnya.
"Dibilangi alay ngeyel, alay anak layangan, kerjaannya nongkrong di pinggir jalan sambil godain cowok"
"Eh aku gak gitu, gak jadi minta tolong aku dah."
"Cie cie gitu aja marah. Sana dah smsan dengan pacarmu, biar aku kerjain sendirian," kataku sambil mengambil karton, penggaris dan pensil yang sudah disediakannya.
"Chul."
"Ya" jawabku singkat.
"Aku sudah putus dengan pacarku."
"Emang kenapa?" tanyaku.
"Dia ... dia ternyata gay" Luna berkata sambil menundukkan kepalanya
"Hah... Yang bener?" aku merasa kaget bercampur bahagia. Karena mungkin dengan jalan ini aku bisa mendapatkannya tapi aku merasa sedikit heran karena dalam cerpen buatanku si tokoh utama putus dari pacarnya karena pacarnya lesbi, sedikit mirip memang.
"Kamu harus sabar Lun, jalan hidup memang penuh dengan persimpangan, batu kerikil dan polisi tidur, jika jalan yang kamu lalui itu lebih menyerupai tol yang mulus tanpa persimpangan, mungkin itu bukanlah kehidupan yang sebenarnya."
“Ya"jawabnya rilih
"Pandanglah hidup dari sisi manisnya Lun, jangan seperti aku memandang hidup dari sisi pahitnya saja. Ada hadits yang artinya harta karun dari setiap muslim adalah hikmah, oleh karena itu carilah hikmah dari setiap kejadian."
Sambil mengangkat kepalanya dia tertawa
"Hi hi hi lebaynya keluar sudah"
Tiba-tiba prang, terdengar suara seperti piring pecah.
"Apa itu Lun?"
"Gak papa kok, paling kucing ngejar tikus terus mecahin piring"
Tapi dari raut wajahnya kulihat kekhawatiran yang semakin bertambah.
Apakah jangan-jangan cerita lanjutan dari cerpenku menjadi kenyataan, orang tuanya bertengkar lalu bercerai. Ah itu tidak mungkin pasti cuma kucing. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya lagi.
Segera aku ukur panjang dan lebar kertas tersebut, kugaris dan kubuat polanya. Sementara dia sedang sibuk memotong kertas. Setelah menghabiskan waktu bermenit-menit dengannya, akhirnya tugas ini berhasil di selesaikan.
"Akhirnya selesai juga." sambil menyodorkan tangannya kepadaku.
"Makasih ya" dia menyalamiku
"Tuh ‘kan, kamu yang lebay" balasku. "Eh lun aku mau cerita sesuatu tentang . . ."
Belum selesai aku berkata-kata tiba-tiba muncullah ibunya sambil membawa sebuah tas besar yang entah berisi apa dan berlari menuju pangkalan ojek tidak jauh dari rumah Luna.
"Mama mau kemana?" teriak Luna.
Namun sang mama masih terus berlari tanpa menghiraukan panggilan anak semata wayangnya itu.
Wajah cantik luna kini bukan lagi nampak khawatir namun sudah sangat sedih, matanya nampak berkaca-kaca.
"Tadi mau cerita apa "
"Gak jadi dah Lun!" aku tidak tahu harus bagaimana, karena cerita cerpenku kini semakin menjadi nyata.
"Chul, makasih ya atas bantuan kamu, sekarang aku masih mau sendiri. Gak papa ‘kan," Luna mengusirku secara halus, aku tahu ia sangat terpukul dengan kejadian-kejadian ini.
"Kalau kamu butuh bantuan atau temen curhat lagi aku bersedia membantu" Luna mengambil bangun ruang yang telah selesai dan membawanya ke kamarnya.
***
Entah mengapa sore ini terasa bagai malam, gelap dan dingin. Jalan yang kulalui tampak sunyi dan sepi, tak seorangpun kujumpai.
Ternyata tanpa kusadari aku melalui jalan yang salah, pikiranku sudah bingung.
"Pantas saja sepi" pikirku dalam hati.
Gerimis juga mulai jatuh, padahal seharusnya sekarang ini sudah bukan musim hujan, mungkin akibat Global Warming dan gejala El Nino atau La Nina.
Aaaaaaaaaa.
Aku tidak bisa tidur malam ini, di kepalaku hanya teringat dia, di mataku hanya nampak wajahnya, suaranya masih bisa kudengar, bau tubuhnya juga tercium, tangan halusnya juga masih bisa kuraba.
Aku menjadi stress sekaligus bingung "Apakah ini yang namanya cinta atau hanya rasa bersalah yang menghantui diriku akibat cerpen itu. Ya tuhan, tolong hambamu ini."
***
Hari ini ekstrakurikuler wajib yang kuikuti yaitu KIR mengadakan kegiatan SO (Social Observation). Kegiatan ini berisi penelitian tentang benda benda prasejarah tepatnya zaman megalitikum, kurang lebih zaman 5.000 tahun yang lalu.
Jujur aku malas untuk datang, namun aku benar-benar takut 3 kejadian di cerpenku selanjutnya benar-benar terjadi.
Aku bergegas berangkat menuju sekolah, takutnya aku terlambat. Dan ternyata memang benar, namun tak apa sebagian besar siswa lain sama terlambatnya.
Langsung saja kucari Luna yang satu kelompok denganku, kulihat wajahnya nampak bahagia, mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi cerpenku. Aku meyakinkan diriku sendiri, "2 kejadian sebelumnya hanya kebetulan, tidak mungkin selanjutnya terjadi lagi."
Semuanya berjalan lancar, kelompokku melaju pertama dan tidak ada masalah dalam perjalanan. Dalam satu kelompak ada 8 orang, namun hanya ada 6 orang yang datang, dan aku satu-satunya lelaki disini.
Dalam kelompokku selain aku dan Luna tentunya ada pula Ratna yang pandai kimia, dia adalah murid kesayangan Pak Joko guru kimia kami. Tya yang terkenal suka gonta-ganti pacar, mungkin sama banyaknya dengan aku mengetik kata ‘dia’ dalam cerpen buatanku sebelumnya. Tak lupa Paramita si kandidat kuat ketum ekstra ini dan Icha teman Luna dalam ekstra Baster (Barisan Teater) yang selalu saja berbicara tanpa bias dian.
Akhirnya kami tiba ditempat terakhir sambil menunggu kelompok lainnya anak-anak sibuk berfoto ria, namun kulihat Luna justru menuruni tangga batu menuju kesebuah pinggiran tebing yang cukup jauh dari tempat kami.
Aku takut sekali, aku berharap kejadian dicerpenku tidak benar-benar terjadi. Ayahnya tertabrak mobil dan kakinya lumpuh, si tokoh utama menjadi gila dan bunuh diri.
"Luna!" aku berteriak sekuat tenaga sambil menghampirinya. Tampak anak-anak lain hanya senyum-senyum sendiri.
"Kamu gak papa lun, gak ada masalah lagi ‘kan," tanyaku memastikan.
"Kamu tahu ‘kan, kemarin sore orang tuaku bertengkar dan mama pergi entah kemana. Kemarin malam, papaku pergi mencari mama namun naas motor papaku tertabrak truk di jalan Jember. Sekarang entah keadaannya bagaimana," Luna berkata sambil menetaskan air matanya.
"Maafin aku Lun, ini semua salahku," jawabku dengan suara serak.
"Emang kamu salah apa?" tanyanya tak mengerti.
"Sebenarnya aku mau ngomong dari kemarin, tapi aku tidak punya keberanian. Kejadian-kejadian yang kamu alami selama ini itu sama persis dengan cerpenku."
"Maksud kamu?" dia tambah tidak mengerti.
"Kejadian putusnya kamu dengan pacarmu, orang tuamu yang bertengkar, papimu yang kecelakaan itu tertulis semua di cerpenku"
"Jadi semua kejadian ini gara-gara cerpenmu. Semua kejadian yang kamu tulis di cerpenmu menjadi kenyataan yang menimpa diriku, trus apalagi selanjutnya, kamu buat aku mati,” Luna sudah tidak seperti yang kukenal, dia sudah benar-benar seperti orang gila. Dia meronta-meronta tidak karuan.
"Waduh gimana nih, mungkin ini kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan dalam hidup" aku hanya bisa menyesali dalam hati.
Yang bisa kulakukan hanya memegang kedua tangannya agar tidak meronta. Setelah beberapa puluh kali jantungku berdegup kencang, akhirnya dia bias diam, kulanjutkan dengan berkata kepadanya.
"Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hatiku terdalam
Sungguh aku cinta padamu.
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku
Seumur hidupku
Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini kulakukan karena kamu memang untukku."
"Maafin aku Lun!"
"Hi hi hi itu kan lirik lagunya Afgan yang Bukan Cinta Biasa, gak kreatif neh" jawabnya yang langsung mengagetkanku.
Aku hanya diam tak bersuara
"Kamu tau nggak ini tanggal berapa"
"3 mei 2009, emang ada apa?" tanyaku polos.
"Aku tau kamu suka sama aku, aku juga sudah suka sama kamu dari dulu, aku udah janji sama diriku sendiri kalo kamu enggak nembak aku sampai hari ulang tahunku aku bakal ngelupain kamu. Namun akhirnya aku gak perlu ngelupain kamu"
“Terus semua kejadian selama ini?” tanyaku kebingungan.
“Itu cuma rekayasa, aku udah jomblo dari dulu, gak ada ceritanya gay-gayan. Mamaku juga aku suruh pura-pura minggat, trus papaku juga sehat walafiat kok” jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu tau darimana kalo cerpenku ceritanya seperti itu" tanyaku lagi.
"Bu Lastri itu ‘kan bu dheku, jadi aku sering main-main kerumahnya, kebetulan aku baca cerpen yang kamu kumpulin.”
“Jadi sekarang kita sudah resmi pacaran sekarang?”
“Ha ha ha ha” mungkin sebentar lagu aku yang menjadi gila.
***
Minggu 3 Mei 2009
Dear diary
Hari ini aku menemukan cintaku yang selama ini kucari
Bukan sekedar cinta monyet, kera, simpanse, lutung, gorilla, kingkong dan sebagainya
Cinta yang sesungguhya bahkan mungkin bukanlah sekedar cinta biasa
Meskipun aku tak tahu apa itu cinta itu sebenarnya
Namun aku berharap cintaku akan abadi selamanya
Ku berharap cinta yang tumbuh ini tak akan bisa mati
Akan terus bersemi dalam hati
Hingga akhir hayat
Nanti
Minggu, 13 November 2011
Sabtu, 12 November 2011
galau: tersenyumLah saat kau mengingatkukarena saat itu,...
galau: tersenyumLah saat kau mengingatku
karena saat itu,...: tersenyumLah saat kau mengingatku karena saat itu, aku sa...ngat merindukanmu dan menangislah saat kau merindukanku karena saat itu, aku ...
karena saat itu,...: tersenyumLah saat kau mengingatku karena saat itu, aku sa...ngat merindukanmu dan menangislah saat kau merindukanku karena saat itu, aku ...
Mendesain blogger: Cara meletakkan Background Gambar Di Belakang Tuli...
Mendesain blogger: Cara meletakkan Background Gambar Di Belakang Tuli...: Nah anda bisa lihat bukan pada artikel atau post kali ini,saya akan menerangkan cara memasukan foto kita sendiri kedalam belakang tulisan po...
Mendesain blogger: Cara meletakkan Background Gambar Di Belakang Tuli...
Mendesain blogger: Cara meletakkan Background Gambar Di Belakang Tuli...: Nah anda bisa lihat bukan pada artikel atau post kali ini,saya akan menerangkan cara memasukan foto kita sendiri kedalam belakang tulisan po...
Mendesain blogger: Cara meletakkan Background Gambar Di Belakang Tuli...
Mendesain blogger: Cara meletakkan Background Gambar Di Belakang Tuli...: Nah anda bisa lihat bukan pada artikel atau post kali ini,saya akan menerangkan cara memasukan foto kita sendiri kedalam belakang tulisan po...
Jumat, 11 November 2011
Langganan:
Komentar (Atom)



